Girl Power ala Olivia Rodrigo: manis, pemberontak, dan enggan dibatasi label
Girl Power ala Olivia Rodrigo: manis, pemberontak, dan enggan dibatasi label

Kekuatan seorang perempuan tidak selalu harus disuarakan lantang.
Kadang, kekuatan itu hadir lewat gaun mini, sepasang sepatu bot bersol tebal, lagu yang menyentuh hati, atau momen ketika kamu berkata, “Aku memang suka begini.”
Itulah sosok Olivia Rodrigo.
Ia bisa menyanyikan patah hati, amarah, dan kebingungan, sekaligus naik ke panggung dengan gaun bernuansa feminin. Ia tidak mengemas Girl Power menjadi sesuatu yang serba sempurna dan aman, melainkan memberinya emosi, sisi tajam, pakaian cantik, serta sedikit jiwa pemberontak yang enggan diatur.
Rasanya benar-benar khas Olivia.
Girl Power tidak pernah hanya punya satu wajah
Saat mendengar Girl Power, banyak orang mungkin membayangkan semangat yang positif, berkilau, dan penuh slogan seperti “Perempuan itu hebat.”
Tentu saja, tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, kekuatan perempuan yang dibawa Olivia Rodrigo terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Tidak harus selalu percaya diri atau penuh energi setiap hari. Terkadang, kekuatan itu juga bisa rapuh, kacau, jatuh cinta pada orang yang salah, marah besar, atau mengenakan gaun manis sambil ingin berteriak sekeras-kerasnya.
Justru Girl Power yang tidak begitu sempurna inilah yang terasa lebih dekat di hati.
Karena perempuan memang tidak perlu terkurung dalam satu citra saja. Bisa manis sekaligus pemberontak; menyukai warna merah muda sekaligus musik rok; mengenakan rok mini sekaligus punya pendirian sendiri.
Hal paling memikat dari Olivia adalah ia tidak memisahkan semua itu.

Sisi feminin Olivia punya sikap yang tegas
Dalam gaya Olivia Rodrigo beberapa tahun terakhir, kita sering melihat pengaruh perempuan punk era 90-an.
Gaun pendek, atasan bergaya babydoll, rok mini mengembang, motif kotak-kotak, dan renda dipadukan dengan sepatu bot berkesan tangguh seperti Dr. Martens. Perpaduannya terasa manis, dengan sedikit sentuhan nakal.
Namun, justru karena nuansa feminin dan mudanya itu, sebagian orang pernah mengkritiknya karena dianggap sengaja membuat dirinya terlihat seperti anak-anak.
Komentar seperti ini rasanya sudah tidak asing.
Sejak kecil, perempuan sering diingatkan: jangan pakai ini, jangan memperlihatkan itu, jangan sampai orang salah paham. Tapi pertanyaannya, mengapa pilihan pakaian perempuan selalu harus lolos penilaian orang lain terlebih dahulu?
Sikap Olivia soal ini jelas. Ia tidak merasa gaya tersebut sengaja menonjolkan seksualitasnya. Baginya, itulah penampilan yang terasa keren, nyaman, dan menginspirasi.
Hal ini berarti besar.
Karena makna sebuah pakaian seharusnya tidak hanya ditentukan orang lain. Perasaan orang yang memakainya justru yang paling utama.
Girl Power hadir dalam gaya berpakaian dan tindakannya
Girl Power Olivia Rodrigo hadir bukan hanya lewat busana panggung dan visual albumnya.
Ia juga peduli pada bagaimana para kreator perempuan mendapat ruang dan perhatian di dunia pertunjukan musik.
Artikel aslinya menyebut bahwa Olivia menjadikan Lilith Fair sebagai salah satu sumber inspirasi penting. Lilith Fair adalah festival musik tur yang didirikan pada 1997 oleh penyanyi sekaligus penulis lagu asal Kanada, Sarah McLachlan. Festival ini menampilkan penyanyi perempuan dan band yang dipimpin perempuan, serta pernah mengumpulkan lebih dari 10 juta dolar AS untuk kegiatan amal.
Semangat memberi perempuan panggung agar suara mereka didengar lebih banyak orang juga hadir dalam proyek Olivia sendiri.
Ia meluncurkan Daisy Chain Fields, menghadirkan jajaran penampil festival musik yang didominasi perempuan, sekaligus mendukung organisasi nirlaba yang membantu perempuan dan anak perempuan. Ia tidak hanya menyuarakan perasaan perempuan lewat lagu, tetapi juga mewujudkan kekuatan itu dalam tindakan.
Inilah yang membuatnya semakin mengesankan.
Karena Girl Power masa kini bukan lagi sekadar mengatakan “Perempuan juga bisa kuat.” Semangat ini juga mengajak kita bertanya: bagaimana memberi lebih banyak perempuan ruang, panggung, pilihan, dan kesempatan untuk bersinar dengan cara mereka sendiri?
Olivia sedang menjawabnya dengan caranya sendiri.

Kenakan kekuatan perempuan dengan gayamu sendiri
Dari Courtney Love hingga Olivia Rodrigo, ada satu hal yang tidak berubah: perempuan tidak perlu meminta maaf atas gaya mereka sendiri.
Olivia membuat Girl Power terasa lebih manis sekaligus lebih nyata. Kekuatan ini tidak menuntut senyum yang selalu sempurna atau energi positif setiap saat, tetapi memberi ruang untuk punya emosi, gaya, pendirian, dan sedikit jiwa pemberontak.
Ia bisa manis, bisa juga masam.
Bisa sangat feminin, bisa juga sangat rok.
Bisa berbusana seperti bunga, sekaligus bernyanyi layaknya badai.
Mungkin inilah sisi paling memikat dari Girl Power generasi baru.
Bukan menjadi perempuan yang dianggap “benar” oleh orang lain, melainkan berdiri dengan anggun melalui caramu sendiri.
Sedikit manis.
Sedikit nakal.
Dan sedikit tak bisa diatur siapa pun.
